Economy and Social Chaos By Covid-19

[Ilustrasi] Virus Corona. (Pixabay)https://m.ayobandung.com/read/2020/02/26/80683/wabah-virus-corona-bisa-menginspirasi-perang-biologi

Pandemi Corona (Covid-19) yang mewabah ke seluruh dunia telah menimbulkan dampak di berbagai bidang kehidupan. Bukan sekedar persoalan medis, namun juga berdampak pada persoalan ekonomi, politik, sosial, hingga agama. Masyarakat diterpa kepanikan sosial ekonomi yang menyebabkan terjadinya chaos.  Kebutuhan akan barang medis seperti APD, masker, dan handsanitizer tidak dapat dihindari. Harga barang-barang pun melambung tinggi, jauh dari harga normal. Hal ini membuat masyarakat semakin resah seiring informasi wabah tersebut semakin masif. Selain itu blow up berita hoax yang merebak di banyak sosial media membuat masyarkat semakin was-was.

            Penyebaran virus yang semakin cepat mewabah dalam lingkup internasional, membuat beberapa negara melakukan lockdown. Menutup akses masuk turis mancanegara termasuk kegiatan perekonomian berupa ekspor dan impor. Hal ini tentu meresahkan para pengusaha dalam kegiatan produksinya. Produktivitas yang menurun tentu akan mempengaruhi pendapatan usaha. Secara tidak langsung juga akan mengurangi pendapatan para tenaga kerja, hingga secara makro daya beli masyarakat pun menurun. Tentu hal ini akan membuat pendapatan nasional pun cenderung menurun, sehingga resesi ekonomi pun tidak dapat dihindari.

            Selain dunia usaha yang mengalami guncangan, kegiatan operasional publik pun berubah sementara menjadi work for home. Sekolah dan kampus juga dialihkan pada kegiatan belajar di rumah selama dua pekan. Dengan memanfaatkan sarana teknologi daring, pembelajaran dapat dilakukan secara jarak jauh. Aktivitas masyarakat di luar area rumah dibatasi oleh himbauan pemerintah agar masyarakat melakukan social distancing sebagai upaya preventif dari penyebaran virus Corona di Indonesia. Namun, karena hanya bersifat imbauan, keefektifan kebijakan ini amat tergantung dari peran masyarakat yang sadar dan peduli akan pentingnya kesehatan satu sama lain.

            Beberapa dampak ekonomi yang terjadi karena wabah Covid-19 ini diperparah dengan adanya panic buying masyarakat yang dipicu oleh isu lockdown. Hal itu membuat masyarakat tidak hanya panik mencari dan membeli masker serta hand sanitizer, namun juga panik untuk membeli stok kebutuhan pangan/sembako. Eskalasi transaksi belanja konsumen atas barang sembako pun meningkat.  Masyarakat khawatir kehabisan stok karena produksi bahan pangan terbatas dan pelayanan ritel dihentikan sementara. Panic Buying terjadi sejak pemerintah menyatakan dua ornag WNI positif terjangkit virus Corona (Covid-19).  Hal itu menyebabkan permintaan bahan pangan melonjak dan stok pangan terancam menipis. Padahal pemerintah tetap mengontrol ketersediaan stok pangan sehingga pelaku ritel terus menyiapkan stok kebutuhan dan tetap melayani masyarakat.

            Dalam upaya mencegah kelangkaan stok tersebut, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) meminta pemerintah jangan terlambat dalam memasok bahan pokok, salah satunya melalui importasi. Kepanikan dalam memperoleh bahan pangan itu dapat diredakan jika pemerintah membuat pernyataan dengan memastikan stok aman. “Panic buying, itu kan karena isu-isu stok pangan terbatas. Jadi ada ketakutan. Jadi itu makanya kita harus sampaikan, stok pangan kita berlimpah, sudah, pasar normal itu. Psikologis pasar dan masyarakat harus kita jaga,” jelas Ketua Umum APPSI, Sarman Simanjorang.

            Selain panic buying yang terjadi pada masyarakat, nilai tukar rupiah pun merosot sepanjang pekan ini hingga 8% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah menyentuh level psikologis Rp 16.000/US$ (AS), tidak berbeda dengan level saat Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1998. Bukan hanya Indonesia, nilai tukar mata uang negara-negara lain juga ikut menurun, karena investor global tengah memburu Dollar AS di tengah pandemi Corona yang semakin memburuk. Dollar diyakini lebih aman dan lebih likuid dibandingkan aset lainnya. Namun penguatan Dollar juga membawa dampak buruk bagi eksportir AS. Perlambatan ekonomi akibat pandemi Corona tampak dari bursa saham AS yang volatil. Hal ini membuat ekonomi AS semakin cepat menuju resesi akibat penguatan Dollar dan merosotnya harga minyak.

Menyikapi serangan Pandemi Covid-19 ini pemerintah pusat belum memutuskan untuk lockdown (karantina wilayah secara penuh) tapi lebih memilih social distancing (pembatasan interaksi antar masyarakat). Salah satunya karena pertimbangan APBN (hutang negara akan semakin “melambung”, nilai tukar Rupiah semakin “terpuruk”) untuk menjamin kebutuhan rakyatnya sebagai konsekwensi dan kompensasi dari kebijakan lockdown. Dari itu, kebijakan ekonomi makro yang akan diterapkan perlu pertimbangan yang  akurat, dengan melihat situasi dan kondisi masyarakat suatu negara tersebut. Hal ini dilakukan agar kondisi sosial ekonomi masyarakat tidak semakin chaos, dan dapat segera stabil kembali. (wq-red.)

Bedah buku menjerat Gus Dur

Kamis, 27 Februari 2020 – Satu per satu kumpulan mahasiswa memasuki ruang Aula KH. Hasan Saiforridzal dengan bersemangat, utamanya para anggota ormawa Inzah yang memiliki semangat aktivis. Acara yang diselenggarakan oleh DEMAFA Syariah Inzah ini telah ramai diperbincangkan para mahasiswa sejak poster terpasang di mading kampus.

Continue reading

Ngaji bareng, HMPS PAI target adakan tiap Bulan

Kraksaan- Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) mengadakan acara Ngaji Bareng bertempat langsung di Aula KH. Hasan Saifourridzal, Sabtu 18/01. Rektor INZAH, Dr. Abdul Aziz Wahab M. Ag dan Kustiana Arisanti M. Pd selaku dosen PAI turut hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber.

Continue reading

  • 1
  • 2
  • Alamat

    Jl. P.B, Sudirman, No. 360, Kraksaan, Probolinggo, 67282. Telp/Fax: 0335-842178
  • Telepon

    0335-842178
  • Fax

    0335-842178
  • Email

    sekretariat@inzah.ac.id

Download