FOGEIS: Apa Kabar Indosyari’ah Stock Exchange?!

                Mahasiswa merupakan kaum intelektual muda yang menjadi agen perubahan dan tanggap dalam setiap kondisi bangsanya. Berjiwa aktif, kreatif, kritis dan analitik. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas perkuliahan, namun juga di lingkungan sosial masyarakat luas. Termasuk kegiatan organisasi mahasiswa Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Zainul Hasan Genggong, Probolinggo yang tetap aktif. Masa Social Distancing yang merupakan dampak Pandemi Covid-19 tidak  menyurutkan langkah mereka untuk tetap belajar.

Kuliah daring menjadi solusi belajar mahasiswa di tengah pandemi Corona, termasuk kegiatan ilmiah FOGEIS Unzah kali ini. Forum Gerakan Mahasiswa Ekonomi Islam (FOGEIS) Unzah, khususnya Divisi Research and Development (RnD) KSEI Fogeis mengadakan kajian online bertema “Musim Safe Haven, Apa Kabar Indonesia Syari’ah Stock Exchange?”. Kajian daring tersebut telah dilaksanakan pada Kamis (2/4) dengan pemateri Waqi’atul Aqidah, M.Pd., dosen Fakultas Ekonomi Syariah sekaligus staf Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Unzah Genggong. Peserta yang hadir secara daring bukan hanya dari mahasiswa Unzah, namun juga berasal dari Perguruan Tinggi lainnya.

Seiring dengan timbulnya dampak pandemi saat ini, perekonomian Indonesia juga tidak stabil. Salah satunya terlihat dari capital outflow yang semakin tinggi dan indeks harga saham yang kian menurun. Mahasiswa Fogeis Unzah mengamati hal ini untuk dikaji bersama dan ditemukan solusinya, khususnya bagi para mahasiswa sendiri yang sekaligus menjadi investor saham di GI BEI Unzah Genggong. Selain itu kajian ini juga menjadi overview kontekstual dari mata kuliah Pasar Modal Syariah yang telah mereka tempuh di semester sebelumnya.

Kegiatan kajian daring ini dimulai oleh Moderator, Fitra Aamalia, dan dilanjutkan pemaparan materi dengan menggunakan media power point, dokumen pdf., video, gambar, artikel harian Bareksa dan Manulife, serta voice recorder yang telah disiapkan oleh pemateri. Meski tak dilakukan secara tatap muka, para peserta menyimak dengan baik dan antusias penyajian materi tersebut. Hal ini tampak dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pemateri dalam diskusi.

Pemateri menyampaikan bahwa wabah virus corona memang menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dunia di sepanjang berjalannya tahun ini. Kondisi tersebut membuat para investor berusaha mencari aset investasi yang dianggap aman (safe haven instrument) untuk melidungi kekayaannya. Pasar saham saat ini mengalami kejutan akibat dua sentimen, yaikni penyebaran pandemi Covid-19 dan kejatuhan harga minyak global. Pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan melambat menjadi di bawah 5 persen. Menkeu mengasumsikan, meski belum mengumumkan secara resmi, bahwa ekonomi Indonesia bisa terkena dampak dari perlambatan global menjadi di kisaran 4,7 persen.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan sejumlah langkah dalam merespons pergerakan pasar domestik. Mulai dari melakukan analisis hingga memberhentikan perdagangan untuk sementara. Februari 2020, IHSG terus terperosok jauh pada Kamis (27/2) pagi dengan dibuka terkoreksi 0,15 persen atau 8,48 poin di posisi 5.680,44. Lalu perjalanan di bulan Maret 2020 IHSG melalui perkembangan yang sangat volitile, hingga menutup bulan Maret 2020 dengan presentase 2,82% ke level 4.538,93 dan sempat menyentuh titik tertingginya di level 4.569,47. (Kontan, 1/4/2020) Sedangkan April 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus ditutup di zona merah. IHSG ditutup melemah 1,61% ke level 4.466,04.

 Tidak berbeda dengan perkembangan IHSG, indeks saham syariah juga melemah. Jakarta Islamic Index (JII), Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), dan Jakarta Islamic Index70 (JII70) juga melambat di level masing -14,97%, -13,00%, dan -14,57% pada Februari 2020. Pelaku pasar masih menunggu realisasi stimulus yang dikeluarkan pemerintah untuk penanganan virus corona senilai Rp 405,1 triliun. Apalagi, dampak stimulus tersebut terhadap sektor riil tidak langsung terlihat.

Pertanyaan datang dari Chrishtin Natalia dari Universitas Kristen Petra, “Lantas strategi apa yang dapat dilakukan investor saat ini? apakah strategi bertahan dengan posisi sebelumnya cukup baik untuk keamanan si investor?” Jawaban pemateri, “Dalam keadaan ini, riilnya investor dapat mengalihkan dana pada Reksadana Pasar Uang yang cukup likuid dan beresiko rendah. Selain itu juga ada Surat Utang Negara (SUN) yang dijamin langsung oleh pemerintah. Saat ini pemerintah sedang melelang 5 Seri Sukuk.

Pertanyaan kedua dari Ibnu Affan dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), “Sebagai pemula, strategi apa yang baiknya dilakukan saat pasar sedang bearish? Dan bagaimana peran kita sebagai ekonom Rabbani dalam menyikapi ini?” Jawaban pemateri, “Saya pribadi tidak menyarankan untuk serta merta menjual saham tersebut, karena ini bergantung pada volatilitas saham kita. Jika saham kita cukup defensif, sehingga ingin menunggu stabil ya boleh saja. Namun jika kecenderungan penurunannya tinggi, mengalihkan pada Reksadana yang beresiko rendah dapat menjadi solusi. Sebagai ekonom Rabbani tentu pandangan kita pada index saham syariah. Saya rasa solusinya tidak jauh berbeda dengan solusi investor IHSG. Pilihan untuk mempertahankan saham syariah dengan alasan tetap menjunjung syari’ah juga boleh saja. Kembali pada pertimbangan dan analisis investor masing-masing”.

Kemudian pertanyaan dilanjut kepada peserta yang lain seputar tema Indosyariah Stock Exchange. Closing Statement dari kajian online oleh pemateri kali ini adalah “Hanya Allah-lah yang kuasa atas segala sesuatu. Sekaya apapun, sepintar apapun, dan sekuat apapun manusia, tidak ada daya sedikit saja pada kuasa Allah yang menciptakan makhluk kecil bernama Corona (Covid-19)”. (red-bapsi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Alamat

    Jl. P.B, Sudirman, No. 360, Kraksaan, Probolinggo, 67282. Telp/Fax: 0335-842178
  • Telepon

    0335-842178
  • Fax

    0335-842178
  • Email

    sekretariat@inzah.ac.id

Download